Beranda > Artikel, Lingkungan > Cara Berfikir Visioner Orang Tua Dulu

Cara Berfikir Visioner Orang Tua Dulu

Sebelumnya mungkin kita beranggapan bahwa rumah panggung yang dibuat orang tua kita dahulu karena alasan keamanan; terhindar dari ancaman binatang buas. Mungkin pula karena keterbatasan bahan. Atau bahkan karena alasan tradisi. Nyatanya rumah panggung adalah tipe rumah ramah lingkungan. Minimnya penembokan menjadikan lahan rumah tersebut sebagai lahan tangkapan air. Walaupun dalam skala yang relatif kecil, setidaknya akan memberikan arti sebagai daerah resapan.

Orang tua kita memang bijak. Pemikirannya – disadari ataupun tidak – sudah sangat maju jauh ke depan, dan visioner. Rumah panggung, misalnya, merupakan salah satu solusi untuk mengurangi erosi. Air hujan tidak lantas masuk ke parit atau sungai, tetapi sebagian di antaranya meresap ke dalam tanah. Risiko banjir pun dapat ditekan.

Mereka pun tak terlalu pusing dengan Ruang Terbuka Hijau kota yang cenderung menyusut secara kualitas. Boleh jadi karena jumlah penduduk saat itu relatif sedikit. Tetapi mereka menyadari bahwa lingkungan adalah persoalan jangka panjang. Pemikirannya sama seperti halnya ketika mereka menanam tanaman yang bisa berproduksi beberapa tahun ke depan untuk warisan anak cucu suatu saat nanti. Walhasil, ia tidak memikirkan sesuatu untuk dirinya sendiri saat itu, tetapi memberi manfaat untuk generasi yang akan datang.

Pemikiran seperti itu jauh berbeda dengan kondisi kita sekarang yang cenderung serba instan. Segala sesuatu diharap bisa dipetik hasilnya seketika. Tak perlu menanam pohon, karena apa yang dihasilkan tanaman bisa didapatkan dengan mudah. Perlu kayu, tinggal pergi ke matrial atau toko bahan bangunan. Butuh buah-buahan, sayuran, tanaman obat, dan sebagainya, tinggal pergi ke pasar. Sepertinya kita tak perlu lagi menanam dan memelihara tanaman.

Ilustrasi ini menunjukkan betapa pola pikir kita begitu sempit. Betapa nilai-nilai kearifan yang ditunjukkan orang tua kita kini luntur, seolah tak berbekas. Tetapi juga tak adil untuk menyalahkan salah satu pihak. Betapa upaya penghijauan belum dimbangi dengan upaya sistematis untuk mengamankan, memelihara dan menjalin keberlangsungan kehidupan tanaman tersebut. Kompleksitas permasalahan lingkungan hidup bagaikan benang kusut. Sementara, pada saat yang sama, kualitas lingkungan hidup kita kini semakin menurun.

Pembangunan fisik yang berlangsung selama ini, cenderung belum sepenuhnya ramah lingkungan. Atas nama efisiensi (untuk jangka pendek dan parsial), berbagai aktivitas manusia menghasilkan gas buang yang merusak udara. Proses produksi pada pabrik-pabrik, kendaraan bermotor, dan aktivitas lainnya melempar CO2 ke udara. Bahkan CO2 yang bersumber dari batu bara, menurut berbagai sumber, menghasilkan 7 hingga 9 miliar ton per tahun. Pada waktu yang sama, jutaan hektar hutan dirusak. Padahal, hutan dengan tanamannya berperan penting dalam menetralisir CO2 dan mengubahnya menjadi O2 (oksigen). Maka CO2 pun berubah menjadi gas rumah kaca yang menahan energi panas matahari kembali ke atmosfir. Suhu bumi pun kian panas. Dan iklim pun berubah.

Jika kondisi ini dibiarkan, dalam beberapa puluh tahun ke depan, es abadi di berbagai belahan bumi mencair. Permukaan laut pun meningkat. Ancaman pun tidak hanya kepada masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, tetapi manusia pada umumnya. Berbagai spesies tanaman produksi (sebagai bahan pangan) bisa terancam punah. Begitu pula berbagai sumber penyakit berkembang menjadi ancaman kehidupan manusia.

Menyambut hari Lingkungan Hidup Sedunia, kita coba renungkan kembali kearifan para orang tua kita. Sedikit demi sedikit kita lakukan perubahan. Berhemat dalam menggunakan listrik (karena sebagian tenaga pembangkitnya berasal dari batubara), menanam tanaman, berhemat dalam menggunakan bahan bakar minyak, dan membiarkan halaman rumah tanpa tembok. Rasanya seperti mimpi ketika Koes Plus menyanyikan lagu yang melukiskan negeri ini sebagai “negeri kolam susu, tiada badai, tiada topan”. Jika tidak melakukan perubahan, maka bencana pun akan semakin menebar ancaman. Bencana banjir, longsor, dan kelaparan kini telah bersiap menerkam kita.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s